Sleman Perkuat Tiga Pilar Ketahanan: Lingkungan, Pangan dan Kesiapsiagaan Bencana 2026
Tiga perangkat daerah Sleman memaparkan langkah strategis masing-masing: Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pertanian.
SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman (Pemkab Sleman) menegaskan komitmennya membangun daerah yang tangguh melalui penguatan pengendalian lingkungan hidup, ketahanan pangan lokal, dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
Komitmen tersebut disampaikan dalam jumpa pers bertema 'Sleman Tangguh dan Berdaya: Sungai Bersih, Pangan Terjaga, Masyarakat Siaga' di Aula Dinas Pertanian Sleman, Selasa (3/2/2026).
Tiga perangkat daerah memaparkan langkah strategis masing-masing: Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pertanian.
Kualitas Air Jadi Fokus Pengendalian Lingkungan
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Sugeng Riyanta, ST, MM, menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
“Kami berkomitmen menjaga kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan. Pengendalian pencemaran menjadi prioritas agar pembangunan tetap selaras dengan daya dukung lingkungan,” ujar Sugeng.
Ia menjelaskan, meningkatnya aktivitas pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berdampak pada tekanan terhadap kualitas sungai, pengelolaan sampah domestik, serta perubahan tata guna lahan.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
“Pendekatan berbasis masyarakat menjadi kunci. Komunitas peduli sungai berperan dalam pemantauan partisipatif, edukasi lingkungan, hingga pelaporan indikasi pencemaran,” jelasnya.
DLH mencatat Indeks Kualitas Udara dan Lahan Sleman masih dalam kategori baik. Namun Indeks Kualitas Air belum sepenuhnya memenuhi target.
“Target indeks kualitas air berada di angka 75, sementara capaian terakhir 72,37. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama terkait parameter bakteri yang masih melampaui baku mutu,” kata Sugeng.
Melalui Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), sebanyak 31 Komunitas Peduli Sungai telah terverifikasi di 11 kapanewon. DLH terus mendorong pembentukan komunitas di enam kapanewon yang belum memiliki forum sungai.
Selain itu, DLH aktif menjalankan Program Kampung Iklim (ProKlim) melalui sosialisasi biopori, penanaman pohon, pembagian bibit, serta pembinaan di sejumlah lokasi.
“Kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga sungai dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
BPBD Sleman Siagakan Posko 24 Jam Jelang Lebaran
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, SE, MT, memaparkan prediksi cuaca berdasarkan rilis BMKG.
Menurutnya, curah hujan masih relatif tinggi hingga Maret–April 2026, meskipun dinamika atmosfer seperti ENSO dan IOD berada pada fase netral.
“Potensi hujan lebat disertai angin kencang, petir, dan tanah longsor tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah rawan,” ujarnya.
BPBD memprediksi potensi banjir Februari–Maret dalam kategori rendah hingga menengah. Namun masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan lereng Merapi dan perbukitan Prambanan.
“Kami mengimbau masyarakat membersihkan saluran air, memangkas pohon rawan tumbang, dan menghindari lokasi rawan longsor saat hujan intensitas tinggi,” kata Haris.
DIY diperkirakan menerima sekitar 4 juta wisatawan saat Lebaran. Sleman sebagai salah satu destinasi utama diminta memperkuat mitigasi keselamatan.
“Pengelola wisata harus memastikan jalur evakuasi dan peralatan keselamatan tersedia. Wisatawan juga wajib mematuhi rambu dan arahan petugas,” tegasnya.
BPBD membuka Posko Utama 24 jam di Pakem dan Posko Lebaran 15–24 Maret 2026 dengan dukungan puluhan kelompok relawan.
Ketahanan Pangan Sleman Masih Surplus
Plt. Kepala Dinas Pertanian Sleman, Rofiq Andriyanto, SHut, MT, menyampaikan bahwa penguatan ketahanan pangan dilakukan melalui optimalisasi pertanian dan perikanan berbasis sumber daya lokal.
Meski luas lahan pertanian terus menyusut, produksi gabah pada 2025 mencapai 135.103 ton. Sementara kebutuhan konsumsi beras masyarakat sekitar 75.000 ton per tahun.
“Secara ketersediaan, Sleman masih surplus sekitar 60 ribu ton. Namun penyusutan lahan tetap menjadi tantangan jangka panjang,” ungkap Rofiq.
Dinas Pertanian menggandeng sekitar 600 Kelompok Wanita Tani untuk mengoptimalkan pekarangan sebagai lumbung pangan kedua.
“Jika potensi pekarangan dimanfaatkan maksimal, tambahan produksi bisa signifikan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga,” jelasnya.
Selain itu, penguatan kelembagaan kelompok tani, peningkatan produktivitas melalui teknologi tepat guna, serta pengembangan budidaya perikanan skala rumah tangga terus didorong.
Rofiq mengakui minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih perlu ditingkatkan. “Kami memfasilitasi pendidikan di Polbangtan dan program magang luar negeri agar pertanian dipandang sebagai sektor modern dan menjanjikan,” katanya.
Dari pengawasan sungai berbasis komunitas, kesiapsiagaan bencana 24 jam, hingga surplus produksi beras di tengah penyusutan lahan, Sleman menegaskan arah kebijakan pembangunan yang terintegrasi.
Komitmen tersebut menempatkan masyarakat sebagai mitra utama pemerintah dalam menjaga lingkungan, memperkuat pangan lokal, dan menghadapi risiko cuaca ekstrem.
Dengan strategi kolaboratif dan partisipatif, Sleman menatap 2026 dengan optimisme sebagai daerah yang tangguh, berdaya, dan berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



