Mahasiswa Baru ITNY Ditantang Jadi Engineer Inovatif dan Berbudaya
Kuliah Perdana ITNY 2026/2027 membawa satu pesan utama: kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan inovasi, etika, kemanusiaan, dan budaya.
JOGJA – Sebanyak 848 mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) resmi mengawali perjalanan akademik Tahun Akademik 2026/2027 melalui Kuliah Perdana ITNY 2026.
Mengusung tema 'Dari Teknologi Menuju Inovasi, Membangun Masa Depan Berbasis Budaya', kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk memahami tantangan dunia pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Rektor ITNY, Dr. Ir. Setyo Pambudi, M.T., IPM., ASEAN Eng., mengatakan mahasiswa baru memiliki posisi penting karena kelak menjadi bagian dari generasi yang menentukan arah pembangunan Indonesia.
“Dengan menyandang status mahasiswa, saudara kini memulai sebuah perjalanan baru akademik di kampus ITNY. Kami akan menggali potensi, memfasilitasi, dan membimbing saudara agar dapat menghasilkan karya-karya dan prestasi besar,” ujar Setyo, Kamis (10/9/2026).
Menurut Setyo, proses pendidikan di ITNY tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki mental tangguh, kemandirian, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi tuntutan pembelajaran di bidang teknologi dan keteknikan.
Sebelumnya, mahasiswa baru telah mengikuti rangkaian Pengenalan Pendidikan Tinggi Mahasiswa Baru (PPTMB) selama tiga hari.
Materinya mencakup bela negara, antiterorisme, etika bermedia sosial, antinarkoba, hingga pengenalan sistem akademik, administrasi, dan kehidupan kemahasiswaan.
Setyo juga mengingatkan mahasiswa agar mempersiapkan empat hal penting selama menjalani pendidikan di ITNY, yakni kesiapan mental dan kemandirian, fasilitas penunjang pembelajaran, pemahaman sistem serta regulasi kampus, dan pengembangan diri melalui organisasi maupun jejaring.
Engineer Masa Depan Harus Melek Teknologi dan Berkelanjutan
Dalam kegiatan kuliah perdana tersebut, ITNY menghadirkan Technical Director PT Geodwipa Teknik Nusantara, Abdul Latif Setyadi, ST., MT., dan pengusaha Naufi Varchan, ST sebagai narasumber.
Dalam kesempatan tersebut, Latif menyampaikan materi tentang Peran Engineering ke Depan dalam Pembangunan Berkelanjutan. Ia menekankan bahwa profesi engineer akan semakin strategis di tengah perubahan teknologi dan tantangan lingkungan.
Latif menjelaskan, engineer masa depan tidak cukup hanya mampu menghasilkan teknologi atau membangun infrastruktur. Mereka dituntut mampu menciptakan solusi yang lebih efisien, tangguh, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat jangka panjang.
Perubahan tersebut terlihat dari bergesernya paradigma engineering. Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur berdasarkan kapasitas pembangunan, tetapi juga mempertimbangkan siklus hidup, efisiensi sumber daya, jejak karbon, serta dampak sosial dan lingkungan.
Menurut Latif, terdapat sejumlah bidang strategis yang akan menjadi arena kerja engineer masa depan, mulai dari energi, kota dan infrastruktur, material sirkular, air-pangan-iklim, hingga digital engineering.
Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), digital twin, Internet of Things (IoT), serta sistem pemantauan emisi akan semakin memperkuat peran engineer dalam merancang solusi pembangunan.
Latif juga mendorong mahasiswa ITNY mulai membangun kemampuan berpikir sistem, literasi iklim, penguasaan data dan pemodelan, komunikasi lintas sektor, kolaborasi multidisiplin, serta etika profesional.
“Keputusan teknis seorang engineer adalah keputusan moral yang berdampak pada generasi yang belum lahir,” menjadi pesan reflektif yang disampaikan Latif kepada mahasiswa baru.
Lima Aset Penting untuk Masa Depan Mahasiswa
Sementara itu, pengusaha Naufi Varchan mengajak mahasiswa baru melihat masa kuliah sebagai fase penting untuk membangun masa depan.
Dalam materi motivasi “Dari Teknologi Menuju Inovasi, Membangun Masa Depan Berbasis Budaya”, Naufi mengajak mahasiswa mengevaluasi perjalanan diri sekaligus menentukan sosok yang ingin mereka capai dalam lima tahun mendatang.
Ia memperkenalkan konsep financial resources E-B-S-I serta gagasan “Masa Emas 2026–2030” sebagai kerangka bagi mahasiswa dalam merancang masa depan.
Naufi menekankan lima aset yang perlu dibangun mahasiswa sejak awal, yakni skill, karakter, kesehatan, relasi, dan personal branding.
Menurutnya, kemampuan teknis memang penting di era digital. Namun, keterampilan tersebut harus berjalan beriringan dengan karakter, kesehatan, jejaring sosial, dan kemampuan membangun identitas profesional.
Teknologi Harus Tetap Berpijak pada Budaya
Kuliah Perdana ITNY 2026/2027 membawa satu pesan utama: kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan inovasi, etika, kemanusiaan, dan budaya.
Mahasiswa baru tidak hanya dipersiapkan menjadi lulusan yang menguasai teknologi, tetapi juga insan yang mampu menggunakan keahliannya untuk menjawab persoalan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan bekal akademik, keterampilan teknologi, karakter, serta wawasan budaya, ITNY berharap 848 mahasiswa baru angkatan 2026 mampu tumbuh menjadi generasi engineer yang berintegritas, inovatif, adaptif, dan memiliki daya saing global.
Mereka diharapkan bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan ikut menciptakan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masa depan Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

