Pesanggrahan Rejawinangun: Jejak Sejarah dan Kemewahan Istana di Situs Warungboto Yogyakarta
Wisatawan saat berkunjung ke Situs Warungboto Pesanggrahan Rejawinangun, Kota Yogyakarta. (FOTO: Yahya Haqul Mubin/TIMES Indonesia)

Pesanggrahan Rejawinangun: Jejak Sejarah dan Kemewahan Istana di Situs Warungboto Yogyakarta

Tempat ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta yang dibangun dengan penuh makna dan fungsi strategis.

TIMES Sleman,Selasa 21 April 2026, 01:07 WIB
1.5K
A
A Riyadi

YOGYAKARTATersembunyi di bumi Yogyakarta, Situs Warungboto menyimpan pesona sejarah yang luar biasa melalui bangunan Pesanggrahan Rejawinangun.

Tempat ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Yogyakarta yang dibangun dengan penuh makna dan fungsi strategis.

Jejak Sejarah

Sejarah berdirinya pesanggrahan ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah besar berdirinya Keraton Yogyakarta.

Berawal dari Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755, wilayah Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Di bawah pemerintahan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah, atau lebih dikenal sebagai Sultan Hamengku Buwono I, berbagai sarana dan prasarana kerajaan mulai dibangun.

Termasuk di dalamnya benteng keliling, cepuri, baluwarti, jagang, hingga pemukiman abdidalem.

Pesanggrahan Rejawinangun sendiri memiliki catatan sejarah yang spesifik.

Berdasarkan sumber-sumber sejarah seperti Tijdschriff voor Nederlandsch Indie tulisan J.F. Walrofen van Nes tahun 1884, Babad Momana, serta Serat Rerenggan, pembangunan pesanggrahan ini dimulai pada tahun 1711 M (1785 J).

Pembangunannya merupakan karya putra mahkota saat itu, yaitu KGPAA Hamengkunegara, yang kelak naik tahta pada tahun 1792 bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Dalam Babad Momana disebutkan angka tahun pembuatannya, "1711 tahun Dal, Kanjeng Gusti awit yasa ing Rejawinangun".

Sri Sultan Hamengku Buwono II dikenal sangat menyukai dan giat membangun berbagai pesanggrahan sejak masih menjabat sebagai Putra Mahkota hingga masa pemerintahannya.

Karena itulah, beliau mendapat julukan sebagai "Raja pembangun pesanggrahan". Selain Rejawinangun, beliau juga membangun Purwareja, Pelem Sewu, dan Reja Kusuma.

Fungsi dan Fasilitas yang Mewah

 Secara fungsi, pesanggrahan atau tempat pesiar merupakan tempat peristirahatan bagi raja beserta kerabatnya. Fokus utamanya adalah memberikan ketenangan dan kenyamanan.

Oleh karena itu, Pesanggrahan Rejawinangun dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap dan mewah pada masanya, meliputi taman yang asri, kolam pemandian, kebun, serta fasilitas khusus untuk kepentingan religius.

Keunikan utama dari situs ini adalah adanya sumber air yang dimanfaatkan menjadi kolam pemandian. Tidak hanya sebagai tempat bersantai, kolam ini juga menjadi sarana rekreasi dan pembersihan diri bagi keluarga kerajaan.

Catatan Kunjungan Pejabat Belanda

 Pesanggrahan ini juga pernah mencatat sejarah pertemuan dengan pihak kolonial.

Pada tanggal 5 - 15 Agustus 1788 M, tempat ini pernah dikunjungi dan diinspeksi oleh seorang pejabat Belanda bernama Jan Greeve.

Dalam kunjungannya, Greeve meninjau sarana dan prasarana yang ada di kompleks tersebut. Bersama dengan benteng Baluwarti di Keraton, Pesanggrahan Rejawinangun juga difungsikan sebagai bagian dari sistem pertahanan kerajaan.

Hingga kini, reruntuhan dan struktur bangunan yang tersisa di Situs Warungboto tetap menjadi bukti nyata kejayaan masa lalu serta arsitektur tradisional Jawa yang memadukan fungsi estetika, kenyamanan, dan pertahanan.

Situs ini dikelola dan dilestarikan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya bangsa.

"Suasananya adem dan tenang. Baru tahu kalau tempat ini dulunya bukan cuma buat santai-santai doang, tapi juga buat pertahanan. Lumayan nambah wawasan. cocok banget buat foto-foto, estetik parah,” terang Fitri, Selasa (21/4/2026)

"Dinding-dindingnya tu ada kesan kuno yang cantik. Terus pas baca sejarahnya, ternyata pernah didatangi orang Belanda juga ya? Wah, makin berasa nilai sejarahnya tinggi," imbuhnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Sleman, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.