Kalung Samir Jadi Simbol Perjuangan, 11 Peserta Philanthropy Academy Lazismu Resmi Lulus
Program magang digelar setahun penuh sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang siap berkarya di bidang filantropi dan pemberdayaan masyarakat.
JAKARTA – Suasana haru dan penuh semangat mewarnai acara pelepasan peserta Program Philanthropy Academy yang digelar oleh Lazismu di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah.
Sebanyak 11 peserta resmi menyelesaikan program magang dan pemberdayaan selama satu tahun penuh sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang siap berkarya di bidang filantropi dan pemberdayaan masyarakat.
Momentum pelepasan tersebut terasa istimewa karena setiap peserta mendapatkan kalung samir secara simbolis dari jajaran pimpinan Lazismu Pusat.
Samir itu bukan sekadar tanda kelulusan, tetapi juga menjadi simbol perjuangan, dedikasi, dan semangat untuk terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Program Philanthropy Academy sendiri merupakan inovasi pemberdayaan yang digagas Lazismu untuk menjawab tantangan dunia kerja, khususnya bagi generasi muda yang sering terkendala pengalaman kerja saat melamar pekerjaan.
Berawal dari Realitas Sulitnya Dunia Kerja
Direktur Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Ardi Lutfi Kautsar menjelaskan, program ini mulai dirancang sejak akhir 2024 menuju 2025 sebagai solusi atas persoalan yang banyak ditemui di lapangan.
Menurutnya, banyak lowongan pekerjaan mensyaratkan pengalaman kerja minimal satu tahun. Kondisi tersebut membuat banyak lulusan muda kesulitan bersaing karena belum memiliki pengalaman yang cukup.
“Persyaratan pengalaman kerja itulah yang menjadi dasar hadirnya program pemberdayaan Philanthropy Academy ini. Kami ingin memberikan pengalaman nyata kepada peserta agar mereka memiliki bekal ketika masuk ke dunia kerja,” ujar Ardi, Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan, seluruh peserta mengikuti beberapa tahapan sejak awal, mulai dari pelatihan dasar, pengenalan kelembagaan Lazismu, pemahaman proses bisnis organisasi, hingga praktik kerja lapangan langsung di Lazismu Pusat.
Program tersebut ternyata mendapat antusiasme tinggi. Dari total 50 pendaftar, hanya 16 orang yang lolos seleksi awal.
Dalam perjalanan program, jumlah peserta terus menyusut hingga akhirnya tersisa 11 orang yang mampu menyelesaikan seluruh proses pembelajaran selama satu tahun.
“Ada peserta yang mengundurkan diri karena diterima bekerja di tempat lain dan berbagai alasan lainnya. Namun 11 peserta yang bertahan ini telah melalui proses panjang yang luar biasa,” katanya.
Digembleng Melalui Pelatihan dan Praktik Lapangan
Selama satu tahun, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik lapangan dan aktivitas pemberdayaan masyarakat.
Ardi menuturkan, para peserta telah melewati dua fase penting, yakni pelatihan dan praktik kerja lapangan.
Sementara satu fase lainnya berupa desain program bersama masih akan terus dikembangkan dalam perjalanan program berikutnya.
Meski acara tersebut disebut sebagai pelepasan, Ardi menegaskan bahwa momen itu sejatinya adalah awal perjalanan baru bagi para peserta untuk berkarya di masyarakat maupun di lembaga sosial lainnya.
“Ini bukan pelepasan sepenuhnya. Ini adalah awal bagi teman-teman Philanthropy Academy untuk terus berkarya, baik di Lazismu maupun di lembaga lainnya. Bekal yang sudah didapat harus dijaga dan terus dikembangkan,” tegasnya.
Batch Pertama yang Jadi Tonggak Sejarah
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais menyebut Philanthropy Academy sebagai program angkatan pertama atau Batch 1 yang diharapkan menjadi tonggak lahirnya kader-kader filantropi masa depan.
Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa istilah 'academy' awalnya belum terpikirkan ketika program pelatihan tersebut dirancang.
Namun seiring perkembangan konsep, istilah akademi dianggap paling tepat karena mengandung makna pembelajaran dan pertukaran pengalaman hidup yang bermakna.
“Kalau ditelusuri dari zaman Yunani kuno, akademi itu berarti tempat belajar untuk memperluas wawasan dan berbagi pengalaman hidup. Nilai itu yang ingin dibangun dalam Philanthropy Academy,” paparnya.
Ia juga menegaskan bahwa program ini lahir dari berbagai kajian dan penelitian yang bermuara pada penguatan nilai ketauhidan dan semangat kebermanfaatan sosial.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan kesiapan mental, spiritual, dan keteguhan nilai agar seseorang mampu bertahan dan memberi manfaat di tengah masyarakat.
Pesan Tauhid dan Semangat Berbuat Kebajikan
Dalam kesempatan tersebut, Mujadid Rais juga menyampaikan pesan mendalam kepada para peserta agar terus menjaga nilai-nilai kebaikan setelah menyelesaikan program.
Ia mencontohkan kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Muaz bin Jabal, yang diutus untuk menyebarkan nilai tauhid dan mengajarkan pentingnya zakat sebagai bentuk penyucian jiwa dan harta.
Menurutnya, ada dua pelajaran penting yang harus dipegang peserta Philanthropy Academy. Pertama, kehidupan membutuhkan fondasi tauhid yang kuat.
Kedua, di mana pun berada nantinya, para alumni harus tetap menjaga hubungan baik dengan Lazismu dan terus menebarkan manfaat.
“Ketika nanti tersebar di berbagai tempat, jangan pernah lupa untuk terus berbuat kebajikan,” pesannya.
Peserta Mengaku Dapat Pengalaman Berharga
Salah satu peserta, Tadjul Arifin, mewakili rekan-rekannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Lazismu Pusat atas kesempatan yang diberikan.
Ia mengaku selama satu tahun mengikuti program tersebut, dirinya mendapatkan banyak pengalaman berharga, terutama terkait pentingnya perencanaan kerja, tanggung jawab, dan kerja sama tim dalam menjalankan sebuah program sosial.
“Ada banyak pembelajaran bermakna yang kami dapatkan. Kami belajar bahwa sebuah program tidak akan berhasil tanpa kerja sama tim yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyebut seluruh peserta berusaha memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin karena menjadi pengalaman yang sangat bernilai bagi perjalanan karier dan kehidupan mereka di masa depan.
Prosesi pemberian samir menjadi penutup penuh makna dalam acara tersebut. Satu per satu peserta menerima samir sebagai simbol kelulusan sekaligus tanda bahwa mereka kini siap melangkah ke fase baru kehidupan.
Momen itu sekaligus menandai komitmen Lazismu dalam membangun gerakan pemberdayaan generasi muda berbasis filantropi, kepedulian sosial, dan penguatan nilai keislaman.
Dengan berakhirnya Batch 1 Philanthropy Academy, program ini diharapkan terus berkembang dan melahirkan lebih banyak generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat dan gerakan kemanusiaan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


