Dinilai Gagal Menjaga Marwah, NU DIY Desak Reformasi Kepemimpinan PBNU
Suasana foto bersama seusai Kegiatan Mubes NU DIY (Foto: NU DIY for TIMES Indonesia)

Dinilai Gagal Menjaga Marwah, NU DIY Desak Reformasi Kepemimpinan PBNU

Desakan tersebut disampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama DIY yang digelar di Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta.

TIMES Sleman,Senin 1 Juni 2026, 19:24 WIB
697
S
Soni Haryono

YOGYAKARTASejumlah warga Nahdlatul Ulama (NU) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendesak adanya pembaruan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026. 

Desakan tersebut disampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama DIY yang digelar di Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta, Kompleks Masjid M. Imam Aziz, Gombang, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Minggu (31/5/2026).

Dewan Penasihat Mubes, Muhammad Machasin, mengatakan pernyataan sikap tersebut muncul karena PBNU dinilai gagal menjaga marwah, kemandirian, serta jarak moral organisasi dari kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kedekatan PBNU dengan pemerintah, keterlibatan dalam pengelolaan konsesi tambang, hingga terbatasnya ruang partisipasi bagi generasi muda dan perempuan dalam proses pengambilan keputusan organisasi.

Menurut Machasin, orientasi PBNU saat ini dinilai telah bergeser dari khidmah utama NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang berfokus pada dakwah, pendidikan, pemberdayaan umat, layanan sosial, dan penguatan demokrasi.

“NU berisiko kehilangan peran sebagai penjaga moral dan pengimbang kekuasaan jika terlalu dekat dengan pemerintah maupun kepentingan ekonomi,” ujarnya, Senin (1/6/2026).

Ia juga mengkritik pengelolaan konsesi tambang yang dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, warga NU DIY mendesak agar konsesi tambang yang diberikan kepada NU dikembalikan kepada negara sebagai langkah memulihkan kemandirian organisasi.

Selain itu, mereka mendorong lahirnya kepemimpinan baru yang dinilai lebih amanah, bebas dari konflik kepentingan, serta mampu mengembalikan NU sebagai organisasi yang berpihak kepada jamaah dan kemaslahatan publik.

Dalam 12 poin rekomendasi yang dihasilkan Mubes, warga NU DIY menuntut penguatan nalar kritis terhadap negara, tata kelola organisasi yang lebih partisipatif dan peningkatan peran generasi muda dan perempuan.

Juga, reformasi sistem kepemimpinan NU, penguatan ekonomi organisasi yang transparan dan akuntabel, serta penegasan sikap ideologis NU dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Pernyataan sikap tersebut disebut sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral warga Nahdliyin untuk menjaga arah perjuangan NU agar tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, keadilan sosial, dan kemaslahatan umat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Soni Haryono
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Sleman, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.